Brian May 1970 menjadi saksi perubahan besar dalam karier musisi yang lahir pada 19 Juli 1947 itu. Di era tersebut ia berkembang dari mahasiswa pascasarjana yang bergulat dengan studi menjadi salah satu gitaris rock paling dihormati, sekaligus arsitek suara di balik identitas musik bandnya.

Peran Brian May pada dekade 1970 bukan sekadar pemain gitar; ia merancang warna sonik yang membedakan band tersebut dari kolega segenerasinya. Sementara vokalis menjadi titik fokus teatrikal, May menyumbangkan gaya permainan, nada, dan penampilan visual yang ikonik.
Red Special: Gitar Buatan Tangan yang Membentuk Suara
Yang membedakan Brian May dari gitaris lain adalah instrumennya sendiri, yang dikenal sebagai “Red Special” atau “The Old Lady.” Gitar ini bukan produk pabrikan Fender atau Gibson; ia dan ayahnya merancang dan membangunnya sendiri pada pertengahan 1960-an. Bahan-bahannya unik: kayu sisa dari mantel perapian abad ke-18, per untuk katup sepeda motor, dan kancing dari nacre (mother-of-pearl).
Selain konstruksinya, teknik bermain May menambah karakter suaranya. Ia kerap menggunakan koin enampence Inggris sebagai pick, bukan plectrum plastik. Tepi bergerigi koin tersebut memberi permainan petik yang terasa lebih tajam dan punya “bite” khas, bagian penting dari identitas tonalnya.
Teknik Rekaman dan Ilusi Orkestra
Pada rekaman studio, Brian May memaksimalkan pengaturan uniknya untuk menciptakan tekstur yang luas. Ia sering melakukan multi-tracking pada bagian gitar, melapisi berbagai take sehingga terdengar seperti bagian brass atau bahkan orkestra simfoni. Hasilnya, album seperti A Night at the Opera (1975) mampu menghasilkan lanskap suara yang rumit tanpa mengandalkan synthesizer—catatan liner pada rilisan itu pun menegaskan “No Synthesizers!” karena banyak efek futuristik dibuat dari gitar dan amplifier yang dimodifikasi.
Penggunaan ampli dan teknik overdubbing tersebut memungkinkan May menghadirkan nuansa sinematik dan harmonis yang kerap mengesankan pendengar sebagai lapisan instrumen yang jauh lebih banyak daripada sekadar beberapa gitar yang direkam ulang.
Brian May 1970: Dari Mahasiswa ke Gitaris Internasional
Pada awal 1970-an, Brian May adalah mahasiswa serius di Imperial College London, menempuh studi Fisika dan Matematika dan lulus dengan predikat kehormatan. Ia kemudian melanjutkan ke jenjang PhD yang meneliti debu antarbintang di tata surya. Namun, ketika karier band melesat sekitar 1974 seiring sukses lagu “Killer Queen”, May memutuskan menangguhkan tesisnya demi tur dan komitmen musik yang menuntut.
Keputusan itu menandai titik balik: dari dunia akademis yang kaku menuju kehidupan panggung internasional. Walau memilih musik sebagai karier utama, latar belakang ilmiahnya tetap menjadi bagian menarik dari narasi hidupnya—menunjukkan kombinasi unik antara pengetahuan teknis dan kreativitas artistik.
Gaya Panggung: Visual yang Mendukung Musik
Di atas panggung pada era 1970-an, Brian May menjadi sosok yang mudah dikenali. Rambut keritingnya yang lebat dan tubuhnya yang tinggi memberikan siluet kuat di bawah sorot lampu. Salah satu item busana paling ikonik dari periode itu adalah atasan satin putih berlipit yang dirancang oleh perancang asal Inggris, Zandra Rhodes. Lengan lebar pakaian tersebut bergerak mengikuti gerakannya, membentuk siluet hampir seperti burung saat ia tampil di bawah cahaya panggung.
Penampilan visual May melengkapi perannya sebagai penyusun suara: bukan sekadar aksesori, tetapi bagian dari presentasi artistik yang menyatu antara musik dan citra panggung.
Selama dekade 1970, kombinasi teknik gitar yang khas, alat yang dibuat sendiri, pendekatan studio yang inovatif, serta citra panggung yang menonjol menjadikan Brian May figur sentral dalam perkembangan rock progresif dan glam. Transisinya dari akademisi menjadi ikon gitar memperlihatkan bagaimana keputusan pribadi dan eksperimen teknis dapat membentuk warisan musikal yang bertahan jauh melampaui zamannya.
Baca juga berita lainnya:
