Perhimpunan Dokter Haji Indonesia (Perdokhi) mengajukan perubahan mendasar pada cara penilaian istithaah kesehatan calon jamaah haji. Menurut Perdokhi, penilaian saat ini yang hanya melihat penyakit tidak lagi memadai untuk menentukan kesiapan dan kebutuhan jamaah selama menjalankan ibadah haji.

Usulan itu menekankan penerapan pendekatan berbasis ICF-WHO, yang menurut organisasi tersebut dapat memberi gambaran lebih komprehensif mengenai kondisi fisik, fungsi, dan kebutuhan dukungan calon jamaah. Pendekatan ini dipandang mampu melengkapi penilaian medis tradisional sehingga keputusan terkait kelayakan berangkat menjadi lebih terukur.
Istithaah kesehatan berbasis ICF: konsep dan tujuan
Perdokhi menyarankan agar konsep istithaah kesehatan tidak hanya menghitung riwayat penyakit atau diagnosis semata, melainkan juga mempertimbangkan aspek fungsi, partisipasi, dan faktor lingkungan sesuai konsep ICF-WHO. Pendekatan ini bertujuan untuk melihat bagaimana kondisi kesehatan memengaruhi kemampuan jamaah dalam beraktivitas dan berpartisipasi selama pelaksanaan haji.
Alasan perubahan pendekatan penilaian
Menurut Perdokhi, fokus semata pada penyakit berisiko mengabaikan kebutuhan fungsional yang mungkin krusial ketika jamaah berada di lingkungan yang menuntut fisik dan logistis. Dengan memperluas kriteria menjadi istithaah kesehatan berbasis ICF, diharapkan penilaian dapat mengidentifikasi jenis dukungan atau penyesuaian yang diperlukan sebelum keberangkatan.
Implikasi bagi proses pemeriksaan dan pelayanan
Perubahan model penilaian berimplikasi pada cara pemeriksaan dilakukan, informasi yang dikumpulkan, serta rujukan layanan kesehatan yang mungkin diperlukan. Perdokhi menilai bahwa pemanfaatan kerangka ICF-WHO dapat membantu tenaga kesehatan menyusun rekomendasi yang lebih spesifik terkait persiapan, pengobatan, dan pengaturan pendampingan bagi calon jamaah.
Dalam praktiknya, pergeseran ini bukan sekadar mengganti formulir pemeriksaan, tetapi juga menuntut pemahaman baru dari tenaga kesehatan dan koordinasi antara berbagai pihak yang terlibat dalam persiapan keberangkatan. Pendekatan menyeluruh ini diharapkan mampu mengurangi risiko kejadian yang tidak diinginkan selama pelaksanaan ibadah di tanah suci.
Tantangan pelaksanaan dan kebutuhan penguatan kapasitas
Perdokhi mengakui bahwa penerapan istithaah kesehatan berbasis ICF memerlukan pelatihan, penyiapan alat penilaian yang sesuai, serta penyusunan standar operasional yang jelas. Tantangan administratif dan sumber daya menjadi hal yang mesti diperhatikan agar perubahan kebijakan dapat diimplementasikan dengan konsisten di berbagai daerah pengiriman jamaah.
Selain itu, koordinasi antarinstansi kesehatan dan penyelenggara haji juga menjadi aspek penting agar informasi hasil penilaian fungsi dapat dimanfaatkan secara efektif dalam perencanaan layanan selama pelaksanaan ibadah.
Harapan terhadap proses kebijakan dan langkah selanjutnya
Perdokhi berharap usulan ini mendapat perhatian dari pemangku kepentingan terkait sehingga ada kajian lebih mendalam mengenai kelayakan implementasi. Usulan transformasi menuju istithaah kesehatan berbasis ICF dimaksudkan untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan jamaah dengan dasar penilaian yang lebih holistik.
Langkah-langkah teknis seperti uji coba, penyusunan pedoman, dan pelatihan tenaga kesehatan kemungkinan menjadi bagian dari proses adaptasi jika kebijakan ini diadopsi. Perdokhi menekankan pentingnya pendekatan yang terintegrasi agar perubahan tidak hanya menjadi wacana, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi calon jamaah haji.
Baca juga berita lainnya:
